> KATA adalah Senjata
Sunday, November 05, 2006
TEST CPNS! BENTUK KETIDAKMANDIRIAN BANGSA KITA!
Puluhan ribu orang berlomba mengikuti test CPNS tahun ini.perhelatan yang memang ditunggu oleh masyarakat pada umumnya.berbagai tingkatan kelulusan bersaing untuk mengadu nasib dalam test CPNS ini.Dari lulusan SD sampai sarjana bahkan yang pasca sarjana tidak mau kalah untuk mencoba.
“Perlombaan” yang dari tahun ketahun selalu memakan korban,korban keputus asaan,korban penipuan,korban percaloan bahkan korban harga diri.setiap tahun begitu banyak kasus yang mengiringi upacara ini.ada yang lulus tanpa mengikuti test,ada yang sudah membayar mahal eh ternyata tidak lulus,ada yang sepantasnya lulus namun ternyata tidak lulus.orang yang dekat dengan Pemerintah yang kebanyakan lulus,biasanya ada hubungan saudara dan ada hubungan kerabat dengan pejabat terkait.namun ini kiranya tidak menjadi pelajaran bagi kita, setiap tahun bukannya berkurang malah semakin bertambah saja orang yang mengikutinya.
Ironis memang!, disaat begitu banyak karunia Allah yang diberikan untuk bangsa ini,”tongkat ditanam jadi pohon” begitu kira-kira pepatah yang sering kita dengar,begitu banyak usaha yang dapat dilakukan untuk mencari sesuap nasi namun kita masih tergantung dengan test CPNS yang gajinya paling tinggi 2 juta rupiah setiap bulannya, ini lebih rendah dari penghasilan pengemis setiap bulannya yang mendapat lebih dari 50 ribu setiap harinya.ini bukan bermaksud mengajak menjadi pengemis tetapi masih banyak pekerjaan yang mulia yang dapat dilakukan untuk menghidupi keluarga.masih begitu luas lahan untuk kita bercocok tanam, masih begitu luas laut untuk kita mencari ikan dan masih begitu banyak pasar untuk kita berniaga.semua dapat kita usahakan seandainya kita mau sedikit lebih rajin berusaha.
Mungkin kalau kita lihat kenegeri orang kita melihat untuk masuk tentara harus diwajibkan oleh Pemerintah,sangat sedikit orang yang mau menjadi pegawai negeri,mereka lebih memilih menjadi petani atau pengusaha karena itu sebenarnya lebih menghasilkan.dan sebenarnya nenek moyang kita dulu juga tidak begitu tertarik dengan CPNS,penulis teringat pada decade 70 an,Pemerintah harus menjemput kerumah orang yang ditawarkan untuk menjadi pegawai negeri.bukan bermaksud berlebihan tapi memang begitu kenyataannya.tapi bandingkan dengan sekarang kita menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan sebuah kursi dipemerintahan.Terjadi pergeseran nilai yang begitu jauh pada diri bangsa kita.mungkin mereka berfikir bahwa PNS merupakan salah satu cara mendapatkan uang tanpa harus bersusah payah,datang pagi isi absent, jam sepuluh ngopi dikantin,memungut pungli pada masyarakat untuk uang lelah,pulang sebelum waktunya dan bisa mencari penghasilan diluar selepas itu dan terakhir ambil gaji buta setiap bulannya.. Maka terjadilah korupsi,manipulasi kuetansi,dan berbagai kejahatan yang sudah dianggap suatu kewajaran sebagai suatu kewajiban menafkahi keluarga,katanya!.Malah ada yang teropoinikan didalam benak mereka untuk menarik modal yang sudah dikeluarkan waktu mengikuti ujian.maka tidak salah kiranya kita diposisikan sebagai salah satu raja korupsi dunia.
Mungkin sudah saatnya kita berbenah,kita mengevaluasi kembali system yang kita bangun.kiranya kita melihat sejauh mana efektifitas dari system ini.sistem ini telah menglahirkan rendahnya etos kerja bangsa kita,orang-orang yang tidak punya kreatifitas,budak-budak dinar yang sama sekali tidak sadar terhadap tanggung jawab moral terhadap bangsa ini.orang-orang yang telah membuat air mata para pahlawanberderai.
Solusi alternative!!
Seperti yang telah disebut diatas bahwa system ini melahirkan orang-orang yang malas.tidak punya dorongan untuk bekerja keras,karena memang tidak ada aturan yang jelas sanksi terhadap prilaku mereka.Penulis pernah mendengar sebuah alternative terhadap permasalahan ini.sistem kontrak mungkin bisa menjadi salah satu solusi dari permasalahan ini.semua pegawai dinegeri ini berstatus ikatan kontrak yang setiap waktu bisa diputuskan ikatan kontraknya jika memang kinerjanya tidak begitu meyakinkan.setiap pegawai dikontrak dalam waktu tertentu.sehingga hanya pegawai yang punya prestasi yang baik yang akan bertahan sedangkan yang kinerjanya jelek diganti dengan yang baru sehingga setiap waktunya ada orang-orang yang bekerja dengan giat untuk mempertahankan posisinya.memang setiap system akan ada suatu kelemahan,memang ini tidak dapat dinafikan,sangat tergantung pada orang yang melaksanakannya,mungkin kita akan berfikir bahwa nepotisme tidak akan hilang, orang yang dekat dengan pejabat akan dipertahankan kontraknya.untuk itu penulis menawarkan untuk membentuk suatu standar baku terhadap penilaian kinerja pegawai. Dan dibentuk tim khusus untuk mengawasi penilaian ini. Tim yang terdiri dari semua kalangan, tim idependen yang tentunya juga melibatkan Mahasiswa.dan kemudian dibuat suatu tranparansi. Dibuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk turut memantau dan melaporkan jika terjadi kesalahan.
Mungkin ini bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kebobrokan abdi Negara kita, semoga bisa mengatasi permasalahan ini.sudah begitu lama bangsa kita terpuruk kalau bukan kita siapa lagi yang akan membangun bangsa ini.Biarlah Allah ,Rasul dan orang-orang yang beriman menjadi saksi atas tekat kita membangun bangsa ini.Semoga bangsa kita bisa menjadi bangsa yang mandiri.wassalam!!
 
posted by isra safril at 6:39 AM | Permalink |


1 Comments:


At 5:56 PM, Blogger azizah

Kata adalah senjata...
Nice title ya...

Selamat ya, udah punya Blog. terus di up-date ya Blognya.

Gmn kabar Jurnalistik Nurani Aceh? Sepertinya tambah sibuk aja nih Pak Ketua?

Oh ya Isra, zz komen dikit ya mengenai tampilan Blognya. Tampilannya bagus. menggambarkan sebauh karakter yang sudah diusung sang Judul, Kata adalah senjata.

Awalnya agak seram juga pas sekali baca. Tapi benar, zz setuju, kita punya kata-kata untuk senjata, (kaya tentara mau berangkat perang nih, udah semangat!!)

Btw, zz pernah baca juga buku Kata adalah Senjata, gak abis sih? Isra pernah tau buku itu gak?